Cerpen
AURORA
By NM
Aurora membanting file yang dibawanya ke atas meja kerja. Dia kesal sekali sehingga tak sadar menyenggol cangkir kopi yang ada di meja. Dan isinya tumpah di atas file yang penting.
"Oh, no! Bagaimana ini bisa kulakukan? File nya jadi kotor," ucap Aurora sambil membersihkan file tersebut dengan tisu. Tak terasa dua bulir air mata jatuh.
"Lengkap sudah penderitaanku, tadi sudah kena marah Pak Anton karena kecerobohan aku. File yang seharusnya dipakai presentasi gagal total, sehingga kerjasamanya juga gagal yang otomatis perusahaan rugi," ucap Aurora.
"Dan otomatis kamu juga harus lembur," kata Pak Anton.
Karena kedatangan atasannya yang tiba-tiba, Aurora tidak sempat menghapus air matanya.
"Pak Anton," kata Aurora berdiri dari duduknya.
"Tangisanmu tidak akan merubah keputusanku. Dan apa ini?" tanya Pak Anton seraya mengambil kertas file yang terkena tumpahan kopi.
Aurora semakin takut dia akan dipecat. Entah kenapa akhir-akhir ini Aurora sering kali ceroboh, dia sering kali menghilangkan file penting perusahaan. Sehingga otomatis dia harus segera membuat lagi dan lembur.
"Itu terkena kopi, Pak!" jawab Aurora sedikit bergetar.
"Iya, saya tau ini terkena kopi. Tapi bagaimana bisa? Ini kan file yang sangat penting," kata Pak Anton dengan suara ditinggikan, yang membuat teman sekantornya melihat.
"Tadi tidak sengaja saya menumpahkan kopi saya," jawab Aurora. Badannya mulai memanas padahal tadi terasa dingin.
"Hari ini jangan pulang sebelum kamu menyelesaikan file-file ini," bentak Pak Anton seraya membanting file tersebut di atas mejanya. Dan kemudian Pak Anton pergi dari hadapannya.
Aurora duduk dengan lemas, "Alamat aku akan lembur lagi."
Jika bukan karena kebutuhan keluarganya, mungkin Aurora akan berhenti dari pekerjaan ini. Tapi kedua adiknya masih membutuhkan biaya untuk sekolah. Karena kedua orang tuanya sudah meninggal.
"Aku harus semangat," ucap Aurora ketika mengingat senyum keluarganya. Kemudian Aurora mulai mengerjakan file yang tadi rusak. Dan tidak mempedulikan bahwa teman di sekitarnya satu persatu mulai pergi dari ruangan untuk pulang.
"Sudah jam berapa ini?" seketika itu mata Aurora melihat jam dinding menunjukkan angka enam.
Tiba-tiba ruangan dia bekerja gelap. Aurora berteriak,"Tolong!"
"Diam kamu Aurora," bentak Pak Anton yang entah kapan ada di dalam ruangannya.
"Loh, Pak Anton belum pulang?" kata Aurora kaget karena mendengar suara yang dikenalnya.
"Memang kamu lihat aku sudah keluar ruangan?" tanya Pak Anton dengan kata sinis.
"Tidak Pak," jawab Aurora. Entah kenapa Aurora sedikit damai jika ada Pak Anton.
Mata Aurora tidak bisa melihat jelas, terasa ada sesuatu yang merayap naik di kaki kirinya.
"Aaaaa. Apa ini?" teriak Aurora yang langsung lari ke arah Pak Anton dan memeluknya.
Entah berapa menit dia memeluk Pak Anton, dan atasannya itu tidak marah sama sekali.
"Maaf Pak," kata Aurora seraya melepaskan tangannya yang tadi bergelayut di leher Pak Anton.
"Tidak apa-apa," jawab Pak Anton.
Tiba-tiba ruangan yang tadi gelap terdapat cahaya yang berwarna-warni, seperti selendang yang melayang. Sangat indah.
"Siapa yang telah membuat cahaya ini," tanya Aurora yang entah kepada siapa ditujukan pertanyaan tersebut. Karena tidak mungkin itu Pak Anton. "Seperti Aurora yang ada di kutub."
"Aku yang buat," jawab Pak Anton," Aku tujukan untuk orang yang paling aku cintai yang sesuai dengan nama cahaya tersebut."
#Infinitylovink
#Thefighter
#7DaysWritingChallenge
#FLashfiction
#Rwind
#SangPenakluk
#MakkahShopBerau
#NuHalalMarket
#Elshokhify_Olshop
#Deena
#BangEl
#VieRahman

Komentar
Posting Komentar